Blog

Ilustrasi Kekerasan Terhadap Anak

Negeri Yang Mengalami Krisis Peran Ibu Yang Mengkhawatirkan

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

 

Menjadi seorang ibu bukanlah pekerjaan yang main-main. Namun sayangnya banyak wanita yang tidak berpikir demikian. Masih banyak perempuan yang belum merasa pentingnya menjadi seorang ibu yang sungguhan, yang istilah pebisnis menjadi ibu yang ‘profesional’. Bukan ibu amatiran.

 

Kasus seorang ibu muda yang menganiaya anaknya hingga tewas, lantaran kesal sang anak mengompol, harusnya bisa menjadi pelajaran berharga, kalau menjadi ‘ibu’ bukanlah sekedar status, tapi sebuah alur kehidupan yang harus dijalani dengan sebaik-baiknya.

Banyak orang yang heran, bagaimana bisa seorang ibu kesal pada anaknya yang mengompol lalu menyemprotnya dengan racun serangga? Bukankah mengompol itu salah satu siklus kehidupan anak?

Kekerasan yang menimpa anak, yang dilakukan anggota keluarga, khususnya ibu kandung, cenderung meningkat. Menurut catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada tahun 2016 ada 1000 kasus kekerasan pada anak yang terlaporkan. Dan kita tahu, ini adalah puncak gunung es, artinya jumlah yang riil bisa jadi lebih berlipat. Dari jumlah itu, 55 persen pelakunya adalah ibu, dan ini menunjukkan peningkatan yang memprihatinkan. Ini menunjukkan kalau negeri ini mengalami krisis ibu idaman anak.

 

(Baca: Ingin Memiliki Hunian Dengan Pemandangan Nan Asri Bernuansa Islami Dan Non Ribawi? Cari Infonya Disini!)

 

Penyebab Meningkatkan Kekerasan Pada Anak Oleh Ibu

Sedikitnya ada dua penyebab mengapa kekerasan pada anak yang dilakukan kaum ibu meningkat, yaitu

Pertama, tekanan hidup. Kekerasan oleh ibu pada anak meningkat terutama pada masyarakat ekonomi bawah. Tekanan hidup yang terus bertambah; naiknya tarif listrik, makin mahalnya harga sembako, biaya sekolah, ongkos angkutan, ditambah ditelantarkan suami, membuat mental seorang ibu ambruk, hingga ia tak sanggup mengendalikan emosinya dalam mengasuh anak. Percikan sekecil apapun akan menyulut emosi sang ibu yang mengalami depresi berat.

Untuk para ibu dan keluarga di level ini, memiliki anak menjadi beban bukan lagi menyenangkan. Selain biaya hidup harian yang semakin berat, mereka juga dicemaskan dengan masa depan yang seperti tak ada harapan. Faktanya, banyak anak-anak dari keluarga ekonomi bawah ini tumbuh menjadi anak jalanan dan salah pergaulan.

Kedua, tidak berkompeten sebagai seorang ibu. Tidak sedikit perempuan muda yang ketika menikah tidak mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ibu. Begitupula saat mereka hamil dan melahirkan, tidak juga membuat para ibu ini mau meningkatkan kemampuan dan wawasan sebagai ibu yang ideal.

Faktor kedua ini terjadi di semua lapisan masyarakat, baik bawah maupun menengah dan atas. Kita bisa melihat para ibu ini sibuk dengan dunianya sendiri; bersosial media, hura-hura, berbelanja, dll., terpisah dari kehidupan anak-anak mereka. Banyak dari perempuan seperti ini memakai prinsip laissez faire, alias membebaskan perkembangan anak-anak mereka. Sebagian besar dari anak-anak ini akhirnya tumbuh menjadi anak yang tidak dewasa pada waktunya.

Berawal Dari Sistem Sekuler Kapitalistik

Dua kondisi ini adalah gambaran umum dalam masyarakat sekulerisme-kapitalisme-liberalisme. Dari sisi ekonomi, negara yang menganut konsep macam ini memang melepaskan urusan ekonomi pada individu dengan prinsip survival of the fittest. Seperti di tanah air, untuk urusan pendidikan dan kesehatan negara lebih banyak berlepas tangan. Program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) bukanlah program yang dibiayai oleh pemerintah, tapi berasal dari kocek masyarakat itu sendiri Dan itu dihitung sebagai kewajiban yang ditagih oleh pemerintah. Karenanya potret masyarakat miskin semakin bertambah di tanah air.

Sementara itu, kehidupan liberal membuat banyak orang berumah tangga tanpa konsep keluarga Islami. Mereka tak mempersiapkan diri untuk kelak berperan dan bertanggung jawab sebagai orang tua, terutama menjadi seorang ibu. Tak sedikit keluarga yang menganut prinsip liberalisme dalam hubungan antar anggota keluarga, termasuk dalam pengasuhan anak. Kebebasan beragama dan kebebasan pergaulan jadi salah satu aturan dalam keluarga kekinian. Ada sejumlah keluarga muslim yang melepas anaknya berganti agama, permisif dalam pergaulan dengan lawan jenis, termasuk membiarkan anaknya larut dalam kultur lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Kondisi keluarga yang liberal juga membuat emosi menjadi tidak stabil. Hubunga antar anggota keluarga, khususnya ibu dengan anak menjadi banyak persoalan karena tak ada standar kasih sayang, boleh-tak boleh apalagi halal-haram.

 

(Baca: Ingin Memiliki Hunian Dengan Pemandangan Nan Asri Bernuansa Islami Dan Non Ribawi? Cari Infonya Disini!)

 

Solusi Islam

Krisis ibu ini tak bisa dibiarkan berlanjut. Kondisi ideal memang hanya bisa didapat ketika masyarakat hidup dalam naungan kehidupan yang manusiawi, dan itu hanya dalam Syariat Islam. Di luar itu, amat berat bagi keluarga mendapatkan nuansa kehidupan yang menjunjung akhlak dan terjaga secara sosial.

Meski begitu, tetap ada yang bisa dilakukan oleh para muslimah untuk menyelamatkan keluarga, khususnya pengasuhan pada anak, yaitu;

Pertama, membangun kesadaran bahwa menjadi ibu adalah amanah dari Allah SWT. Ada tanggung jawab besar di hadapan Allah pada pundak kaum ibu dalam pengasuhan anak sejak pernikahan hingga mereka dewasa. Pengasuhan anak bukanlah kontrak sosial dengan anak, tapi amanah dari Allah SWT.

Kedua, mempelajari pendidikan Islam tentang hukum-hukum keibuan seperti peran istri, kehamilan, melahirkan, penyusuan, pengasuhan anak, dsb. Dengan demikian saat menjalankan peran sebagai seorang istri dan ibu, kaum muslimah memiliki panduan yang benar dan mudah untuk dijalankan, juga sesuai dengan tuntutan Allah SWT.

Ketiga, meningkatkan ketrampilan teknis sebagai seorang ibu seperti cara berkomunikasi, bermain, memberikan hadiah dan teguran, serta memberikan hiburan yang berguna bagi mereka, termasuk mengendalikan diri saat menghadapi tingkah polah anak.

Semoga, negeri ini segera menjadi negeri yang berada dalam naungan Syariat Islam agar keluarga muslim dan masyarakat umum dapat terlindungi. Selain juga para muslimah wajib berbenah diri untuk menjadi seorang ibu yang dapat menjalankan amanah dari Allah SWT. dalam pengasuhan anak. Allohumma Amiin.

Wallohu a'lam bishshowab.


 

Disalin dari artikel berjudul, "Negeri Krisis Ibu", 29 November 2017, oleh Iwan Januar.

 

 

Artikel Lainnya

Ilustrasi Hewan Qurban

Kampung Quran MataQu Megamendung Dan Cianjur Berqurban 1440H

Ayo kita berqurban. Kampung Quran MataQu membuka kesempatan untuk bapak, ibu, ikhwan dan…
Ilustrasi Anak Belajar Membaca Al Quran

Tentang Belajar Membaca Al Quran Metode Qiroati (I/II)

Banyak ditemukan metode pembelajaran membaca Al Quran diantaranya Qiroati. Lantas,…
Ilustrasi Membaca Al Quran

Lowongan Tenaga Pengajar (Muhafizh) Pesantren Putra MataQu

Pesantren Tahfizh Al Quran MataQu kembali membuka lowongan sebagai tenaga pengajar…

Galeri Lainnya

Pembagian Paket Sembako Yayasan Kampung Quran di Bulan April

Pembagian Paket Sembako Yayasan Kampung Quran, April 2017

Berikut dokumentasi pembagian paket sembako dari Yayasan Kampung Quran MataQu kepada anak yatim piatu, dhuafa, dan jompo di Desa Bojong Koneng dan Gunung Geulis pada bulan April 2017:
Take View Kampung Quran MataQu Dengan Drone (10/09/2017)

Take View Kampung Quran MataQu Dengan Drone (10/09/2017)

Guna keperluan pembuatan video profil terbaru Kampung Quran MataQu, alhamdulillah pada Ahad siang, 10/09/2017, tim dari Kampung Quran MataQu melakukan pengambilan pemandangan (take view) dari atas dengan menggunakan drone. Berikut dokumentasinya:
Pagi Ngaji Tim Manajemen Kampung Quran MataQu (24-09-2017)

Pagi Ngaji Tim Manajemen Kampung Quran MataQu (24-09-2017)

Al Quran adalah kitab suci umat Islam. Di dalamnya tidak terdapat keraguan dan menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Karena itulah membaca dan mentadabburi ayat-ayat Al Quran menjadi suatu keniscayaan bagi kaum muslim. Dan berbekal pemahaman itulah, kami…
Pematokan Dan Penomoran Kavling Kampung Quran Cianjur 09/19

Pematokan Dan Penomoran Kavling Kampung Quran Cianjur 09/19

Berikut adalah beberapa dokumentasi update pematokan dan penomoran tanah kavling produktif rumah kebun, Kampung Quran Cianjur, PT Grup MataQu Indonesia, yang dilakukan per 4 September 2019:
Denah Rancang Bangun Masjid Jami' Kampung Quran MataQu Bogor

Denah Rancang Bangun Masjid Jami' Kampung Quran MataQu Bogor

Berikut dokumentasi pembagian 1.500 paket lebaran Idul Fitri 1438 H untuk keluarga besar dan warga sekitar Kampung Quran MataQu, Megamendung, Bogor:

banner dauroh al quran 40 hari kotak 001

Tentang Kami

Kampung Quran Center adalah kawasan terpadu seluas > 70 ha yang terdiri dari kompleks pendidikan, hunian, wisata, serta usaha bernuansa alam mengusung tema "Komunitas Keluarga Quran" yang dikelola oleh Yayasan Kampung Quran MataQu.

 

Hubungi Kami

Kampung Quran MataQu, Cipendawa, Megamendung, Bogor, Jawa Barat, Indonesia, 16771

  • Telepon/Whatsapp0813-8313-9388 (Anita)

  • Telepon/Whatsapp0813-8313-9389 (Dita)

  • Telepon/Whatsapp0812-1069-3356 (Sita)

  • EmailAlamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Waktu Operasional

Sabtu - Kamis : 09:00 - 17:00 WIB

Jum'at: Libur

Hari Raya Islam: Libur